Monday, May 23, 2005

Kartu lebaran

Kemarin saya beres-beres kamar. Biasa, giliran akan ada ramai-ramai di rumah, saat semua kamar penginapan di bangunan berlantai dua dengan enam kamar milik mama saya ini seketika akan menjelma bak asrama mahasiswa. Atau mungkin lebih tepat lagi mirip barak, karena aktifitas tidur akan dilakukan tidak hanya di kamar tapi di seluruh bagian rumah yang memungkinkan untuk dipakai tidur. Oke, kembali ke topik semula. Waktu beres-beres saya temukan beberapa barang lama yang memang sengaja saya simpan. Alasan saya menyimpannya dulu sih karena sayang kalau dibuang, lagipula barang-barang itu jadi kenangan manis. Tapi nyatanya saya tidak pernah ingat dengan barang-barang itu selama kurang lebih enam tahun terakhir. (Jadi, untuk apa disimpan, ya?). Salah satunya adalah kartu lebaran.

Dulu, jamannya saya masih SMP dan SMA, kirim-kirim kartu lebaran setiap lebaran masih musim. Bahkan kartu lebarannya khusus dibikin dengan tangan sendiri. Bikin kartu sebanyak-banyaknya (yah, kira-kira sampai tangan ini muak ngerjainnya), lalu kirim ke teman-teman. Bukan teman jauh yang jarang-jarang ketemu, tapi temen-temen sekolah yang memang tiap hari ketemu. Tapi, dulu kan setiap lebaran liburnya panjang betul, jadi rasanya lama gak ketemu, maka terkirimlah kartu lebaran sebelum suasana lebaran habis pada saat liburannya selesai. Biasanya teman-teman perempuan hampir pasti mengirim kartu buatan sendiri. Bagus-bagus. Penuh ide-ide kreatif. Mungkin karena itu juga dulu saya gak sampai hati membuangnya.

Sampai akhirnya kemarin, kartu-kartu lebaran itu ketemu lagi. Semua saya baca lagi satu-persatu. Lucu-lucu. Kata-kata yang dipakai saat SMP/SMA dulu ternyata gayanya jauh berbeda dengan jaman sekarang. Bahkan beberapa membuat saya berpikir, “apaan sih, norak banget!”. Banyak yang pakai bahasa inggris, atau lebih tepatnya sok-sok inggris, tapi grammar, spelling, vocab, kacau semua. Tapi harap dimaklumi, masih SMP gitu loh! Baru aja belajar bahasa inggris. Segitu juga udah usaha, lah!

Semakin tinggi tingkatan sekolah, jumlah kartu lebaran semakin berkurang. Jaman berubah. Uang makin susah. Dulu, beli atau bikin kartu lebaran limapuluh lembar dan ngirim semuanya pakai pos, gak masalah. Kartunya paling 500 perak, dan perangkonya 100 perak (yang gambarnya Pak Harto dalam berbagai warna itu loh!). Sekarang, beli sepuluh lembar aja mikirnya tiga hari, belum lagi biaya perangkonya. Gimana gak mikir? Kartunya kalau bisa dapet yang 2000 rupiah udah sukur tuh, lalu harga perangko dalam kota 1500 rupiah! (gak sanggup lagi pakai satuan perak!). Sekarang jamannya email, dan sms. Ucapan selamat lebaran bisa terkirim untuk puluhan teman hanya dengan satu klik. Yang agak mahal sedikit, lewat SMS, rata-rata 350 perak per satu orang teman (tapi pakai tambahan kesabaran berhubung jaringan seluler saat lebaran dijamin sibuk berat!). Pertimbangan lain adalah, semakin tua, teman semakin banyak. Mau dikirimi kartu semuanya?! Terima kasih, deh!!

Sekarang, adik saya yang masih SMP tidak pernah merasakan kirim-kiriman kartu lebaran. Dia hanya tahu sms, dan email. Betapa jaman begitu cepat berubah. Saya hidup di jaman yang berganti dengan cepat, dan teknologi berkembang setiap saat.
Subhanallah.

0 comments: