Saturday, April 24, 2004

Pemilu... uhm...

Tulisan ini sebenernya gua buat kira-kira 3 minggu yang lalu untuk suatu keperluan..
Daripada terlupakan.. so here it is.


“Nyoblos, nggak?”
…………
Mungkin itulah pertanyaan paling populer yang sering diucapkan orang beberapa hari yang lalu. Pemilu yang katanya adalah pesta demokrasi bangsa Indonesia baru saja dilaksanakan pada tanggal 5 April yang lalu. Seperti telah diketahui, pemilu kali ini tidaklah sama seperti pemilu yang sudah-sudah. Di tahun 2004 ini, sistem baru pelaksaan pemilu diterapkan. Selain memilih partai, pemilih juga harus menentukan siapa utusan daerah yang pantas untuk duduk dalam DPD serta calon legislatif dari partai yang dipilihnya untuk duduk di DPR pusat, DPRD I dan DPRD II.

Sistem yang benar-benar baru ini tentu saja terasa sangat berat ketika dilaksanakan untuk pertama kalinya. Berbagai permasalahan dihadapi oleh banyak pihak yang terkait. Selain Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang memang sangat dibuat repot untuk pelasanaan pemilu tahun ini, masyarakat pun ternyata punya porsi permasalahan mereka sendiri. Kebanyakan dari masyarakat merasa bingung mau memilih partai apa, terlebih lagi mengenai pilihan utusan DPD dan calon legislatif dari sebuah partai. Bagaimana tidak bingung, jumlah partai peserta pemilu tahun 2004 ini mencapai 24 partai. Memang jumlah ini lebih sedikikt dibandingkan dengan 44 partai peserta pemilu di tahun 1999. Akan tetapi jumlah 24 ini rasanya tetap termasuk dalam kategori ‘banyak’. Tidak cukup kendala ini, masyarakat juga harus bingung memilih calon-calon lagislatif dan utusan daerah dengan alasan mereka tidak kenal dengan calon-calon tersebut dan tidak tahu apa-apa mengenai kualifikasi mereka. Akhirnya, banyak dari mereka hanya mencoblos lambang partai tanpa mencoblos nama calon legislatifnya, dan hal ini sah dalam penghitungan suara.

Kalau kita mengikuti perkembangan persiapan pemilu di tanah air, rasanya waktu itu pesimis sekali pemilu bisa berjalan pada waktunya. Masalah yang paling mencuat dalam berita dari berbagai media massa di tanah air adalah mengenai keterlambatan logistik pemilu sampai ke tempatnya masing-masing. Untuk beberapa daerah yang logistik pemilunya benar-benar terlambat terpaksa dilakukan pemilu susulan. Selain itu ada juga beberapa daerah yang menerima surat suara yang bukan untuk daerahnya, alias salah kirim sehingga terpaksa menunggu kiriman baru. Hal-hal ini termasuk dalam permasalahan sebelum pemilu. Seperti halnya ada beberapa warga di daerah tertentu yang tidak didata sebagai pemilih dan akibatnya mereka tidak dapat menggunakan hak pilihnya dalam pemilu tahun ini. Meskipun demikian masih mungkin bagi mereka untuk didata sebagai pmilih sehingga dapat berpartisipasi dalam pemilihan presiden bulan Juli nanti. Satu permasalah lain adalah seperti sudah dikemukakan di atas mengenai sosialisasi, baik itu sosialisasi parpol-parpol peserta pemilu maupun sosialisasi mengenai tata cara pelaksanaan pemilu. Penjelasaan mengenai tata cara pemilu tahun ini dirasakan sangat kurang. Padahal kesalahan dalam mencoblos dapat menyebabkan suara yang disampaikan menjadi tidak sah.

Lain lagi permasalahannya pada hari pelaksanaan pemilu. Fenomena serangan fajar ditemui oleh beberapa warga dan diadukan ke pihak berwajib. Ada yang membagi-bagikan sembako pagi hari menjelang dilaksanakannya pemilu beserta sebuah pamflet berisi ajakan untuk mencoblos nama caleg tertentu, ada juga yang membagi-bagikan uang pada sekelompok warga pada subuh hari pemilu teresebut agar mereka mencoblos partai tertentu. Memang banyak sekali cara yang diusahakan untuk mendapatkan suara dalam pemilu. Kemudian juga didapati banyak warga yang tidak datang ke TPS untuk menggunakan hak pilihnya walaupun dia sudah terdata sebagai pemilih. Kebanyakan alasan mereka adalah mereka harus bekerja hari itu karena pendapatan mereka berbasis harian. Beberapa hal sempat dikhawatirkan pada hari pelaksanaan pemilu, misalnya antrian panjang di TPS karena untuk membuka dan melipat kembali surat suara yang sebesar kertas koran dalam bilik suara yang sebesar kaleng kerupuk itu tentunya akan memakan banyak waktu. Tetapi kekhawatiran ini tidak terbukti, dan menjelang sore umumnya pencoblosan di setiap TPS bisa diselesaikan dan penghitungan suara pun langsung dilaksanakan.

Saat ini masih masa penghitungan suara hasil pemilu. Bahkan tahap ini pun tidak lepas dari masalah, seperti penghitungan suara yang terkesan lambat, kesulitan beberapa daerah untuk menggunakan fasilitas TI (Teknologi Informasi) untuk memasukan hasil perhitungan suara di daerahnya, komputer KPU yang rusak, dan banyak lagi. Yang paling serius adalah penolakan beberapa partai peserta pemilu atas hasil perhitungan suara yang bahkan saat ini masih bersifat sementara.

Terlepas dari segala permasalahan dalam pelaksaan pemilu ini, sebagai bangsa Indonesia kita patut berbangga. Kerusuhan, keributan dan sejenisnya selama masa kampanye dan masa pemilu yang dulu sempat dikhawatirkan masyarakat ternyata tidak terjadi. Kampanye berlangsung aman, pemilu pun berlangsung aman. Masyarakat rupanya sudah lebih sadar untuk tidak mudah terprovokasi oleh pihak-pihak yang menginginkan keributan. Masyarakat sudah lebih pintar untuk tidak termakan janji-janji semasa kampanye parpol. Kita patut bersyukur dan berbangga hati karenanya. Dan jangan lupa, masih ada satu tahap pemilu lagi untuk memilih presiden. Gunakanlah hak pilih kita, jangan biarkan suara kita digunakan secara tidak bertanggung jawab oleh pihak-pihak yang merugikan. Jadi pastikanlah kita menggunakan suara kita dengan memilih sendiri presiden bagi bangsa yang kita cinta ini pada tanggal 5 Juli nanti. Dengan pemilu ini masyarakat diberi kesempatan untuk terlibat secara langsung untuk memilih presiden, maka gunakanlah kesempatan ini sebaik-baiknya. Tetaplah berpegang pada hati nurani kita dan jangan mau diperalat atau mudah terprovokasi pihak-pihak lain. Semoga negara kita segera terbebas dari segala kesulitan.
-Dini

0 comments: