Tuesday, October 25, 2005

Mengharap yang tidak diharapkan

Almost25Wiken kemarin saya isi dengan acara mingguan sebuah komunitas muslim di Singapura khusus selama bulan ramadhan. Biasanya yang datang adalah keluarga-keluarga Indonesia yang mengais dolar di singapura ini, lengkap dengan anak-anaknya yang rata-rata masih kecil, dengan rentang usia antara satu bulan sampai dengan delapan tahun. Para bapak-bapak berkumpul di ruang tengah dan mendengarkan ceramah menjelang berbuka puasa dari ustadz yang sudah diundang. Sementara ibu-ibu tersebar di dua tempat utama. Pertama, di dapur, membantu sang nyonya rumah menyiapkan segala sajian makanan. Biasanya hanya beberapa orang saja yang terlibat di sini. Sementara sebagian besar ibu-ibu akan berada di dalam sebuah ruangan terpisah dari bapak-bapak, biasanya sebuah kamar, bersama anak-anak kecil mungil, lucu yang sibuk bermain, menangis, berteriak, berlari, berloncatan kesana kemari. Yah, kira-kira bisa dibayangkan suasana TK saat jam istirahat dimana anak-anak bermain dengan bebas, tapi ini didalam sebuah kamar tidur berukuran sekitar 4x3m yang sudah berisi sebuah tempat tidur singel dan sebuah lemari pakaian besar. Oya, jangan lupa, para ibu-ibu dari anak-anak lucu itu juga ikut keluar main menikmati jam istrirahat (maksudnya, ada di dalam 'playground' yang sama dengan sang anak-anak). Saya, seorang istri. Belum jadi ibu-ibu karena belum punya anak. Tapi pastinya ya saya ikut grup ibu-ibu dong, gak mungkin lah saya ikut grup bapak-bapak.

Salah seorang teman punya anak laki-laki, berusia kira-kira lima tahun, yang lucu, cakep, putih, chubby. Pokoknya ngegemesin, deh. Berkali-kali saya mendengar teman lainnya memuji sang anak nan lucu ini. Dan disaat saya sedang frustasi karena berusaha mendengarkan ceramah ustadz yang hanya sia-sia karena suara anak-anak jauh melebihi ukuran desibel sang ustadz inilah saya mendengar obrolan antara ibu sang anak yang lucu tadi dengan temannya. Kira-kira begini.

"Eh, Jeng, cakep banget, lho, anaknya, pipinya itu lho... gemes banget."
"Hahaha, iya ya... padahal dulu 'kebobolan', lhoo... eh ternyata jadinya cakep begini".
"Oh, ya? Iya, tuh, kalo yang nggak diharapin tuh biasanya emang selalu bagus hasilnya...hahaha".

Saya hanya senyum mendengarnya. Dalam hati saya mengiyakan juga, sih. Tapi saya tidak pernah membayangkannya dalam urusan punya anak. Biasanya kejadian seperti ini sering saya hadapi saat menunggu bis. Misalnya, saat sedang menunggu bis nomor 188, ternyata yang ditunggu tak kunjung tiba, sementara bis-bis nomor lainnya sudah sibuk lalu lalang berkali-kali. Jadi yang saya lakukan akhirnya adalah berharap yang tidak diharapkan. Saat saya sedang hendak pergi ke suatu tempat dengan menggunakan bis nomor 188, saya akan menunggu bis 183 saja, atau bis lainnya, pokoknya bukan si 188. Semoga dengan begitu bis 'yang tidak ditunggu-tunggu' alias si nomor 188 itu akan segera datang.

0 comments: